Dinamisme Gaia
Membaca buku ekologi, lingkungan hidup dan pembangunan by Prof Otto Soemarwoto, saya melihat puzzle of life semakin besar, diisi oleh pengetahuan beliau. Beliau melihat perkembangan zaman dari '30-'00, disana terdapat perkembangan otak manusia.
Dari isi otak umumnya untuk bebas ('45), untuk kaya ('60), untuk bersih ('70), untuk energi ('80). Disini banyak dari pemikiran beliau yg dilematis, ex. pembangunan jalan yg membuat jalur mudah untuk manusia berkoloni, dan sekaligus menyedot hasil bumi tanpa kesinambungan.
Disisi pergulatan tentang perikehidupan, yg merupakan inti sebenarnya dari semua prilaku manusia, dapat disimpulkan bahwa Gaia itu dinamis, dan mungkinkah manusia salah dalam menjalankan perikehidupanny.
Dari pembangunan yg kita selalu gembar-gemborkan, pembuatan budaya, pembuatan negara, adalah berbasis suatu yg tetap. Lokasi tetap, bangunan kuat2, dll. Hal yg sama sekali bertentangan dengan pola Bumi itu sendiri, dengan pergeseran lempeng, pergeseran kutub, musim, dan pemusnahan serta regenerasi benua itu sendiri.
Apabila kita tau bahwa terdapat kenaikan muka air laut, dan Jakarta harus tenggelam, bukankah percuma kita menitikberatkan pembangunan disana. Jika kita sudah membeli "properti" dengan upaya yg tidak pernah cukup.. , bukankah menjadi sia-sia jika tidak sesuai dgn asessment bumi ke depan ?.
Pembangunan kita sekarang sudah pasti tidak mendukung alam, malah mengusir alam. Jika terdapat perubahan atas lingkungan, akan pergi kemana lagi faktor alami tersebut (sebab pembangunan sifatnya menetap).
Seiring berakhirny proyek yg diketuai Dr Spencer Wells kita telah mengetahui genetika tertua berasal dari Afrika. Jadi apakah nenek moyang kita tepat dalam perpindahanny, dan kebijakan pembangunan semi permanennya ?.
Cobalah renungkan,
dengan pemikiran yang sebesar bumi,
dan sepanjang panjangnya waktu...
update 24 feb
RE Soeriaatmadja juga mngeluarkan buku ilmu lingkungan. Sudah banyak kesimpulan beliau dengan asas2nya yg susah saya terangkan. (lebih sulit dicerna otak ini bukuna). Beberapa yg dapat saya ambil yaitu :
Krn keragaman melindungi dari pemusnahan sekaligus dr predator alami. Untuk manusia adalah disease. Berlaku juga untuk makanan, jika tgt dgn beras saja, maka jika padi diserang puso, seketika itu juga rakyat kelaparan. Berlaku juga utk pasangan, jika kawin dgn yg dekat genetik saja, faktor resesif akan dominan, facial attributes akan menonjol, dan menjadi kurang indah.
Jika tidak hati2, manusia akan menjadi pengembara yg menghancurkan jalan yg telah dilaluinya. Ketika jalan itu habis sekaligus dia tidak bisa kembali.
Dari isi otak umumnya untuk bebas ('45), untuk kaya ('60), untuk bersih ('70), untuk energi ('80). Disini banyak dari pemikiran beliau yg dilematis, ex. pembangunan jalan yg membuat jalur mudah untuk manusia berkoloni, dan sekaligus menyedot hasil bumi tanpa kesinambungan.
Disisi pergulatan tentang perikehidupan, yg merupakan inti sebenarnya dari semua prilaku manusia, dapat disimpulkan bahwa Gaia itu dinamis, dan mungkinkah manusia salah dalam menjalankan perikehidupanny.
Dari pembangunan yg kita selalu gembar-gemborkan, pembuatan budaya, pembuatan negara, adalah berbasis suatu yg tetap. Lokasi tetap, bangunan kuat2, dll. Hal yg sama sekali bertentangan dengan pola Bumi itu sendiri, dengan pergeseran lempeng, pergeseran kutub, musim, dan pemusnahan serta regenerasi benua itu sendiri.
Apabila kita tau bahwa terdapat kenaikan muka air laut, dan Jakarta harus tenggelam, bukankah percuma kita menitikberatkan pembangunan disana. Jika kita sudah membeli "properti" dengan upaya yg tidak pernah cukup.. , bukankah menjadi sia-sia jika tidak sesuai dgn asessment bumi ke depan ?.
Pembangunan kita sekarang sudah pasti tidak mendukung alam, malah mengusir alam. Jika terdapat perubahan atas lingkungan, akan pergi kemana lagi faktor alami tersebut (sebab pembangunan sifatnya menetap).
Seiring berakhirny proyek yg diketuai Dr Spencer Wells kita telah mengetahui genetika tertua berasal dari Afrika. Jadi apakah nenek moyang kita tepat dalam perpindahanny, dan kebijakan pembangunan semi permanennya ?.
Cobalah renungkan,
dengan pemikiran yang sebesar bumi,
dan sepanjang panjangnya waktu...
update 24 feb
RE Soeriaatmadja juga mngeluarkan buku ilmu lingkungan. Sudah banyak kesimpulan beliau dengan asas2nya yg susah saya terangkan. (lebih sulit dicerna otak ini bukuna). Beberapa yg dapat saya ambil yaitu :
- Keragaman adalah sumber daya pula.
Krn keragaman melindungi dari pemusnahan sekaligus dr predator alami. Untuk manusia adalah disease. Berlaku juga untuk makanan, jika tgt dgn beras saja, maka jika padi diserang puso, seketika itu juga rakyat kelaparan. Berlaku juga utk pasangan, jika kawin dgn yg dekat genetik saja, faktor resesif akan dominan, facial attributes akan menonjol, dan menjadi kurang indah.
- Semakin langka semakin tidak dianjurkan untuk diambil. hal ini berlaku pada puncak piramida makanan dan energi, ex predator puncak n migas. Oleh karena itu hidup haruslah dekat dgn yg awal, ex. sayuran n matahari.
- Populasi dapat mencapai tingkat optimum, tgt tempatnya, penyerapan air dan pengeluaran air, serta berbagai hal, saya dapat bayangan kalau 1 pohon menyumbang 2/3 oksigen utk 1 manusia, 2,5 Ha dapat menyerap air utk 1 manusia (di tropis) dengan 3 pohon yg mature, jadi optimasi optimum tropis bumi dicapai dari total lahan tsb di bumi (Ha) dibandingkan 2,5. maka itulah jumlah optimum populasi manusia.
Jika tidak hati2, manusia akan menjadi pengembara yg menghancurkan jalan yg telah dilaluinya. Ketika jalan itu habis sekaligus dia tidak bisa kembali.


Komentar
Posting Komentar