Nomaden life style revisited
From Africa to Papua, humans search around the world for ease and comfort. We can see some of the ruin from the past, high and tall, neglected, abandoned.
I've found that the most important structure for comfort is "air, water and food". Of the three things that most of us successfully damaged are air and water.
And along with it, we confined our every move through the ownership of the land, nation, country, and also other things.
What I want to say is this: if an area of the Earth where we live no longer support life, (such as the Jakarta bay cause its submerging coastline) (do we not know that the weather and continents are constantly shifting) how can we still continue to live there, is it not better to emigrate, as the ancient megaliths did.
Why do we create a civilization based on land ownership, rather than a sustainable land use. Do we fear others will colonize us, making us slave?, Or is it because we want to suck greedily over God's nature?.
A nomadic thinking could also be thought from the concrete that man's left. Oil-based civilization will be destroyed, but the concrete will stand up for who knows how long. If we all assume that progress equal concrete, compared with fertile soil with plants and animals on it, then our great-great grandchildren can only enjoy concrete jungle, instead of many diversity on this earth. One such as me would agree that the things that can be eaten by age, such as wooden houses, tree houses and land, is much better than that. God is the sublime creator.
For its worth, let's plant trees for home, join the sustainability of the natural realm, make independent technology, put the smoke back to earth, self-limit yourself, and seek beneficial knowledge as a legacy for the next generation.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dari Afrika sampai Papua manusia berjalan mengelilingi bumi mencari kesejahteraan, mencari kenyamanan. Dapat kita lihat bekas-bekas bangunan tinggi menjulang, bangsa-bangsa masa lampau, terbengkalai, dan tidak berpenghuni.
Dari berbagai sumber saya menemukan bahwa struktur kenyamanan yang paling utama adalah udara, air dan makanan. Dari ketiga hal tersebut yang paling kita rusak adalah udara dan air sekarang.
Kemudian daripada itu, kita membatasi tiap gerak kita melalui kepemilikan akan suatu tanah, bangsa, negara, dan juga hal-hal moncrot lain.
Yang ingin saya bilang adalah spt ini : jika suatu ketika area bumi yang kita tempati sudah tidak mendukung kehidupan, (seperti teluk jakarta yang lama-lama terendam) (bukankah kita tahu bahwa cuaca dan benua mengalami pergeseran terus menerus) apakah kita masih bisa meneruskan hidup disana, apakah tidak lebih baik kita berhijrah. Seperti yang dilakukan bangsa-bangsa megalith dahulu kala.
Mengapa kita menciptakan peradaban berbasis kepemilikan lahan, bukannya sbg penanggungjawab area yang berkesinambungan. Sebegitu takutnya kita akan orang lain menjajah kita, menjadikan budak ?, ataukah itu karena kita ingin menyedot alam Tuhan dengan rakus sahaja ? tanpa tanggungjawab.
Pemikiran nomaden juga harus ditilik dari beton-beton yang ditinggalkan manusia. Peradaban berbasis migas dan beton baja ini akan musnah, namun beton tersebut akan kuat berdiri hingga lama. Jika kita semua menganggap kemajuan adalah beton yang tidak menghasilkan apa-apa, dibanding dengan tanah subur dengan hewan dan tumbuhan diatasnya, maka anak cucu cicit tidak akan bisa menikmati banyak keanekaargaman bumi. Saya lebih setuju dengan hal-hal yang bisa dimakan usia, seperti rumah kayu, pohon dan rumah tanah, Tuhan lah pencipta yang paling baik.
Marilah menanam pohon untuk rumah, bergabung dalam kesinambungan mandiri alam, membuat teknologi yang mandiri, memasukkan kembali asap ke bumi, membatasi diri, dan mencari ilmu perjalanan yang bermanfaat untuk disebarkan ke generasi berikutnya.
I've found that the most important structure for comfort is "air, water and food". Of the three things that most of us successfully damaged are air and water.
And along with it, we confined our every move through the ownership of the land, nation, country, and also other things.
What I want to say is this: if an area of the Earth where we live no longer support life, (such as the Jakarta bay cause its submerging coastline) (do we not know that the weather and continents are constantly shifting) how can we still continue to live there, is it not better to emigrate, as the ancient megaliths did.
Why do we create a civilization based on land ownership, rather than a sustainable land use. Do we fear others will colonize us, making us slave?, Or is it because we want to suck greedily over God's nature?.
A nomadic thinking could also be thought from the concrete that man's left. Oil-based civilization will be destroyed, but the concrete will stand up for who knows how long. If we all assume that progress equal concrete, compared with fertile soil with plants and animals on it, then our great-great grandchildren can only enjoy concrete jungle, instead of many diversity on this earth. One such as me would agree that the things that can be eaten by age, such as wooden houses, tree houses and land, is much better than that. God is the sublime creator.
For its worth, let's plant trees for home, join the sustainability of the natural realm, make independent technology, put the smoke back to earth, self-limit yourself, and seek beneficial knowledge as a legacy for the next generation.
![]() |
| Minimalist and free |
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dari Afrika sampai Papua manusia berjalan mengelilingi bumi mencari kesejahteraan, mencari kenyamanan. Dapat kita lihat bekas-bekas bangunan tinggi menjulang, bangsa-bangsa masa lampau, terbengkalai, dan tidak berpenghuni.
Dari berbagai sumber saya menemukan bahwa struktur kenyamanan yang paling utama adalah udara, air dan makanan. Dari ketiga hal tersebut yang paling kita rusak adalah udara dan air sekarang.
Kemudian daripada itu, kita membatasi tiap gerak kita melalui kepemilikan akan suatu tanah, bangsa, negara, dan juga hal-hal moncrot lain.
Yang ingin saya bilang adalah spt ini : jika suatu ketika area bumi yang kita tempati sudah tidak mendukung kehidupan, (seperti teluk jakarta yang lama-lama terendam) (bukankah kita tahu bahwa cuaca dan benua mengalami pergeseran terus menerus) apakah kita masih bisa meneruskan hidup disana, apakah tidak lebih baik kita berhijrah. Seperti yang dilakukan bangsa-bangsa megalith dahulu kala.
Mengapa kita menciptakan peradaban berbasis kepemilikan lahan, bukannya sbg penanggungjawab area yang berkesinambungan. Sebegitu takutnya kita akan orang lain menjajah kita, menjadikan budak ?, ataukah itu karena kita ingin menyedot alam Tuhan dengan rakus sahaja ? tanpa tanggungjawab.
Pemikiran nomaden juga harus ditilik dari beton-beton yang ditinggalkan manusia. Peradaban berbasis migas dan beton baja ini akan musnah, namun beton tersebut akan kuat berdiri hingga lama. Jika kita semua menganggap kemajuan adalah beton yang tidak menghasilkan apa-apa, dibanding dengan tanah subur dengan hewan dan tumbuhan diatasnya, maka anak cucu cicit tidak akan bisa menikmati banyak keanekaargaman bumi. Saya lebih setuju dengan hal-hal yang bisa dimakan usia, seperti rumah kayu, pohon dan rumah tanah, Tuhan lah pencipta yang paling baik.
Marilah menanam pohon untuk rumah, bergabung dalam kesinambungan mandiri alam, membuat teknologi yang mandiri, memasukkan kembali asap ke bumi, membatasi diri, dan mencari ilmu perjalanan yang bermanfaat untuk disebarkan ke generasi berikutnya.

Komentar
Posting Komentar