1435 H dan Papa
Malam ini takbiran, saya teringat di masa dahulu, papa saya. 2010, beliau menghembuskan nafas terakhir saat saya dan mama saya bawa ke RS Urip.
Memori selalu ada, papa saya immortal didalam ingatan saya, sebagai penceramah, sebagai dosen, suka berkelakar, dongeng, suka bergaul dan mancing, yang kdg keras terhadap org kecil.
Sebenarnya papa bukan keras thd org kecil, namun hanya berusaha mencambuk agar orang menjadi giat, bekerja keras, walaupun malah kadang disalahartikan shg bikin sakit hati.
Papa dibesarkan secara sederhana, kakek saya Ajengan Ahmad Dasuqi punya pesantren kecil, sbg pimpinan pesantren, hapal banyak hadis, dan punya sedikit lahan untuk sawah. Dari 12 anaknya, yang hidup sampai besar 9 orang dan papa saya paling bungsu.
Papa adalah orang yang jenaka, ketika ceramah selalu bisa menyelipkan hal-hal kontemporer, shg sesuai keadaan massa, yang sampai sekarang jarang sekali saya liat disini ada (biasanya sibuk sendiri penceramahnya, tidak membumi). Dengan selera seni juga bagus, papa dulu malah ingin jadi dokter, namun tdk lulus, shg jadilah masuk Keguruan UPI Bandung, Biologi, dimana papa ketemu mama.
Ketika pertama jadi guru, papa disukai murid-muridnya, populer, karena kidal, tangan kiri papah bisa menggambar, dan kanannya menulis keterangannya. Hebat khan!.
Yah semua kalangan papa bisa bergaul, malah pernah punya cerpen bersambung yang dimuat di majalah Mangle (majalah basa sunda) sbg penunjang uang kuliahnya.
Namun begitulah dunia, papa dulu sakit waktu kuliah, patah hati juga, namun setelah sakit itu bertemu mama, papa ikut hijrah dengan mama di Lampung, indikasi Hep C diwaktu mama mau S3, melawan sakit sampai usia 62.
Jauh dari saudara2nya di Jawa, ketika sakit jarang yg bisa jenguk, saya dan saudara2 yg lain jg gantian menjaga papah.. saat terakhir papa masi becanda aja tentang perawatnya.. namun sore itu beliau suda bisa merasakannya.
Saya hanya menyesal, minta maaf, belum bisa memperlihatkan saya giat bekerja, saya memperlihatkan calon utk menikah, sehingga papa senang.. hal hal kecil saya minta maaf krn naik intonasi, juga belum bisa.. pesan papa yg paling saya ingat waktu kecil :
Allohumaghfirlahu.. warhamhu, waafihi wa'fu,anhu semoga papa termasuk hamba yang diridhoi Allah, aaamiin YRA.
-malam takbiran 1 syawal 1435h-
Memori selalu ada, papa saya immortal didalam ingatan saya, sebagai penceramah, sebagai dosen, suka berkelakar, dongeng, suka bergaul dan mancing, yang kdg keras terhadap org kecil.
Sebenarnya papa bukan keras thd org kecil, namun hanya berusaha mencambuk agar orang menjadi giat, bekerja keras, walaupun malah kadang disalahartikan shg bikin sakit hati.
![]() |
| Drs. Muhaemin, Mpd Bin Ahmad Dasuqi |
Papa dibesarkan secara sederhana, kakek saya Ajengan Ahmad Dasuqi punya pesantren kecil, sbg pimpinan pesantren, hapal banyak hadis, dan punya sedikit lahan untuk sawah. Dari 12 anaknya, yang hidup sampai besar 9 orang dan papa saya paling bungsu.
Papa adalah orang yang jenaka, ketika ceramah selalu bisa menyelipkan hal-hal kontemporer, shg sesuai keadaan massa, yang sampai sekarang jarang sekali saya liat disini ada (biasanya sibuk sendiri penceramahnya, tidak membumi). Dengan selera seni juga bagus, papa dulu malah ingin jadi dokter, namun tdk lulus, shg jadilah masuk Keguruan UPI Bandung, Biologi, dimana papa ketemu mama.
Ketika pertama jadi guru, papa disukai murid-muridnya, populer, karena kidal, tangan kiri papah bisa menggambar, dan kanannya menulis keterangannya. Hebat khan!.
Yah semua kalangan papa bisa bergaul, malah pernah punya cerpen bersambung yang dimuat di majalah Mangle (majalah basa sunda) sbg penunjang uang kuliahnya.
Namun begitulah dunia, papa dulu sakit waktu kuliah, patah hati juga, namun setelah sakit itu bertemu mama, papa ikut hijrah dengan mama di Lampung, indikasi Hep C diwaktu mama mau S3, melawan sakit sampai usia 62.
Jauh dari saudara2nya di Jawa, ketika sakit jarang yg bisa jenguk, saya dan saudara2 yg lain jg gantian menjaga papah.. saat terakhir papa masi becanda aja tentang perawatnya.. namun sore itu beliau suda bisa merasakannya.
Saya hanya menyesal, minta maaf, belum bisa memperlihatkan saya giat bekerja, saya memperlihatkan calon utk menikah, sehingga papa senang.. hal hal kecil saya minta maaf krn naik intonasi, juga belum bisa.. pesan papa yg paling saya ingat waktu kecil :
"Bai, kamu lihat plastik ini, tidak bisa terurai ini, harus dipunguti, ...."
(papa orang yang pertama membuat saya cinta lingkungan)
"Bai, jangan ambil istri yg lebih dari kamu..." (batas dalam jodoh papa saya memberitahu juga, khawatir akan jiwa yang tertekan dlm berkeluarga)
Allohumaghfirlahu.. warhamhu, waafihi wa'fu,anhu semoga papa termasuk hamba yang diridhoi Allah, aaamiin YRA.
-malam takbiran 1 syawal 1435h-

akhirnya update juga blog ini :D
BalasHapusKalo mau ajah deh
Hapusyou are so lucky have a great papa...semoga beliau termasuk dalam golongan orang orang yang di cintai Allah
BalasHapus