Hati di dalam dada, dan jalan penuntut ilmu
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj :46)
Setelah beberapa lama saya merasakan, ilmu, itu belum berguna tanpa pemahaman, ilmu ibarat pedang, dengan cara bagaimana digunakan itulah pemahaman. Kalimat yang dinasehatkan, kadang keluar dari kuping, seperti sesuatu yang tidak berpengaruh. Banyak ditemukan kalimat " Jangan buang sampah sembarangan " atau " Jagalah lingkungan " tapi apakah itu dipahami atau hanya dilihat dan diabaikan.
Ketika seseorang menjadi astronaut, dia akan mengangkasa, perlahan dia akan merasakan betapa kecilnya dirinya, rumahnya, kotanya, benua dan melihat dari atas, segala peristiwa, semua pertumpahan darah, kerusakan dimuka bumi, pertengkaran, kemalangan, apa yg kita lakukan sehari2, kekayaan yg dibanggakan, terjadi hanya pada kelereng biru itu. Kelereng bernama bumi. Semua terikat dalam mata rantai ekosistem terbatas bumi.
Hikmah akan dirasakan hanya pada orang yg sudah bisa merasakan bumi yang terbatas. Kesadaran akan kemahaindahan, kesempurnaan, yang dianugrahkan pada kita, yang harus dijaga selalu. Hikmah akan penjagaan lingkungan.
Sungguh Allah telah memberi
karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara
mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan
kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan
yang nyata.(Ali Imran : 164)
Sudahkah kita merasakan hikmah, dari perintah Sang Pencipta, "Iqro" ?

thumbs up, quni!
BalasHapusmasih banyak yang cuma bisa ngomong doang, aplikasi jarang