Berpikir Perbaikan Kantor
Apakah tujuan ilmu pengetahuan ? tentulah untuk mewujudkan kondisi hidup manusia yang lebih baik dr sebelumnya. Namun benarkah kondisi kita sdh membaik seiring kita sekolah ? dua tahun, tiga tahun, 10 tahun ?! lalu bekerja ?
Mari sejenak telaah masalah kantor dgn ilmu yg baru niy, byk dari majalah simpul perencana.
Kantor dgn sistem yang baik itu membuat kenyamanan, dan mendorong pengembangkan diri para pelaku didalamnya. Di Zimbabwe, akibat sistem yang buruk, mengakibatkan tidak terbentuknya masyarakat yg tepat waktu, suka mengundur waktu, akhirnya tidak ada kepercayaan dari pelaku bisnis pada pemerintah. Mirip dengan kita bukan.
Sebenarnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk ikut arus. Banyak kolega yang spt itu, sehingga hanya pasrah dan menyalahkan yg diatas. Dalam hal ini yang perlu dibenahi itu sistem. Kalau dicontohkan spt di kampus saya dahulu ITB. Disana integritas sistem terjaga akibat ke angkeran kampus itu sendiri.. manusia suka tahayul, hal hal angker, bangunan tua ataupun apa yg tua tua, bisa menjadi penahan diri manusia sekitarnya.
Sistem tradisi kegiatan manusia akan selalu dikalahkan oleh ke angkeran obyek tidak bergerak, mnurut saya. Dengan adanya keangkeran maka suatu institusi dapat mendorong sifat berani yang benar. Namun begitu di sana juga didukung oleh kejelasan karir, status, tanggungjawabnya masing-masing, sehingga prilaku professional dapat terwujudkan (sumber. Perilaku Professional Dosen PNS di Indonesia, Guspika ). Dalam kampus saya reputasi angker sudah terlihat dari jauh, namun bagaimana dengan kantor pemerintahan yg sudah tercemar reputasinya dan juga manusianya ?
Dapat saya simpulkan spt ini ; terdapat keselarasan dari imej suatu kantor dengan manusia didalamnya.
Apabila kita fokus pada sistem dalam kantor maka harus didatangkan suatu obyek bernilai megah/angker dahulu, shg imej nya berubah. Setelah imej tsb baik, haruslah dikeluarkan dahulu semua manusia di dalamnya sdmikian shg masukan yg baru akan dengan sendirinya berubah dikrnkn imej baru kantor tsb.Dan imej yang terbaik adalah ketika kantor tsb mampu mengorientasikan diri bukan pada kesempurnaan, namun pada perubahan dari review dan masukan seluruh elemen, karena sempurna tidak ada, yg ada adalah progress yg terus diupayakan.
Namun apabila tidak bisa diubah sistemnya. Maka haruslah dari dalam manusianya : ex. sesuai kan tiap manusia didalam untuk diubah self imej dlm dirinya, biarkan dia berpikir yang baik thd dirinya, perkuat spiritualitasnya, dan juga empati thd sesama.
Baru setelh itu manusia tsb siap untuk diasessment secara individu, ataupun dengan penugasan, sehingga diketahui basic knowledge dan skillnya. Untuk kemudian dirangsang dan dtambah seiring waktu. Namun ada yg harus diperhatikan.. manusia yang pusing bin mumet tidak akan bisa menerima dgn baik apapun yg diupayakan padanya.
Mari sejenak telaah masalah kantor dgn ilmu yg baru niy, byk dari majalah simpul perencana.
Kantor dgn sistem yang baik itu membuat kenyamanan, dan mendorong pengembangkan diri para pelaku didalamnya. Di Zimbabwe, akibat sistem yang buruk, mengakibatkan tidak terbentuknya masyarakat yg tepat waktu, suka mengundur waktu, akhirnya tidak ada kepercayaan dari pelaku bisnis pada pemerintah. Mirip dengan kita bukan.
Sebenarnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk ikut arus. Banyak kolega yang spt itu, sehingga hanya pasrah dan menyalahkan yg diatas. Dalam hal ini yang perlu dibenahi itu sistem. Kalau dicontohkan spt di kampus saya dahulu ITB. Disana integritas sistem terjaga akibat ke angkeran kampus itu sendiri.. manusia suka tahayul, hal hal angker, bangunan tua ataupun apa yg tua tua, bisa menjadi penahan diri manusia sekitarnya.
![]() | ||
| Di dalam Aula Barat ITB. http://blogs.itb.ac.id/jsarwono/ |
![]() |
| Pilar dan basis batu gdg ITB 1959 dan tanamannya masi ada sampai sekarang Sumber : Arenaphoto.blogspot.com |
Sistem tradisi kegiatan manusia akan selalu dikalahkan oleh ke angkeran obyek tidak bergerak, mnurut saya. Dengan adanya keangkeran maka suatu institusi dapat mendorong sifat berani yang benar. Namun begitu di sana juga didukung oleh kejelasan karir, status, tanggungjawabnya masing-masing, sehingga prilaku professional dapat terwujudkan (sumber. Perilaku Professional Dosen PNS di Indonesia, Guspika ). Dalam kampus saya reputasi angker sudah terlihat dari jauh, namun bagaimana dengan kantor pemerintahan yg sudah tercemar reputasinya dan juga manusianya ?
Dapat saya simpulkan spt ini ; terdapat keselarasan dari imej suatu kantor dengan manusia didalamnya.
Apabila kita fokus pada sistem dalam kantor maka harus didatangkan suatu obyek bernilai megah/angker dahulu, shg imej nya berubah. Setelah imej tsb baik, haruslah dikeluarkan dahulu semua manusia di dalamnya sdmikian shg masukan yg baru akan dengan sendirinya berubah dikrnkn imej baru kantor tsb.Dan imej yang terbaik adalah ketika kantor tsb mampu mengorientasikan diri bukan pada kesempurnaan, namun pada perubahan dari review dan masukan seluruh elemen, karena sempurna tidak ada, yg ada adalah progress yg terus diupayakan.
Namun apabila tidak bisa diubah sistemnya. Maka haruslah dari dalam manusianya : ex. sesuai kan tiap manusia didalam untuk diubah self imej dlm dirinya, biarkan dia berpikir yang baik thd dirinya, perkuat spiritualitasnya, dan juga empati thd sesama.
![]() |
| Prof Dr Sutardjo A. Wiramihardja dlm Kompetensi Tenaga Perencana pada Pejabat Fungsional Perencana |
Baru setelh itu manusia tsb siap untuk diasessment secara individu, ataupun dengan penugasan, sehingga diketahui basic knowledge dan skillnya. Untuk kemudian dirangsang dan dtambah seiring waktu. Namun ada yg harus diperhatikan.. manusia yang pusing bin mumet tidak akan bisa menerima dgn baik apapun yg diupayakan padanya.



Bahasanya terlalu berat, quni.. jadi pusing bin mumet juga.. :D :D
BalasHapusAstaghfirullooh, yaah belum bagus berarti sy mengalimatkan
BalasHapus