Only human

Konbanwa,

Saya sedari dahulu kala sulit sekali menembus logika manusia. Membicarakan diri saya sendiri kepada orang lain, seringkali disalahpahami. Beberapa penyebab saya cekcok ya spt ini. Banyak salah paham, karena lidah dan otak kadang tidak sinkron.

Saya orang yang sederhana namun sesuai dengan logika. Saya dididik untuk makan apa yg ada, bukan menuntut makan yg ini yg itu, bahkan nama makanan saya tidak seberapa tau.

Dahulu ketika saya sekolah dasar - sma, jarang sekali saya jajan, uang saya yang cuma Rp.50-100 perak selalu ditabung. Kadang saya belikan gambar tempel.

Sedari SMP saya memotong rambut sendiri, krn lumayan juga 7000-15rb sekarang untuk cukur. Yah walaupun skrg sudah tidak selentur dulu tangan, jd byk ke tukang cukur juga.

Sewaktu kuliah saya diberi uang bulanan 300 rb saja, dan alhamdulillah saya bisa beli hape di akhir masa kuliah.

Banyak juga oportunis2 yang memanfaatkan kelemahan ilmu manusia lain. Ketika saya membeli suatu barang, saya survey dahulu apa yg terbaik, durable tahan lama, krn saya jarang beli, saya ingin suatu yg tahan lama. Bahkan kaos jaman smp saya masih ada yg saya pakai. Ketika seseorang membeli sepeda 45 juta, saya kira tidak sebanding.. dgn waktu pakai, saya beli sepeda 2 jt aja bisa dipakai kemana-mana. Ada sabuk seharga 1 jt, dan dasi 50 rb. dan ternyata dari pabriknya aja tdk segitu, ditunggu bbrp lama ada diskon yg membuktikan bahwa kdg harga itu menipu, memanfaatkan nafsu sesaat manusia. Selain itu niat saya sbnrnya apa ?? apakah riya pada manusia ?? kebanyakan sih begitu, the so called social needs... perbaikan niat inilah saya berpikir bahwa batasan saya adalah ketahanan dan bahannya.

Sewaktu saya menjadi PNS di banyuasin, saya mendapat gaji sejuta, dan itu lebih dari cukup, saya masih bisa nabung, makan yg ringan-ringan. Kehidupan berjalan dengan baik, walaupuun tiap bulan ada sesekali sakit. Saya berpikir ada hal lebih penting di depan, keluarga, anak sendiri, biaya bersalin istri, mas kawin, dan perabotan rumah. Kesimpulan saya bahwa yg paling menghabiskan uang adalah tanah, rumah, dan satu lgi nikah.

Gaji berangsur-angsur naik, namun saya tetap berpikir bahwa saya harus hidup seminimal mungkin. Dengan uang yg tersisih itu saya akan memenuhi kebutuhan anggota keluarga saya sendiri ke depan. Semoga saja saya mendapat pasangan yg spt itu berpikirnya. Dan saya kira gaji PNS ini memang dirancang untuk tdk terlalu senjang dgn rakyat sekitar, jd ditutup dengan usaha sendiri untuk menghemat, misal masak sendiri, bekal ke kantor. Dan akhirnya saya selalu membawa bekal ke kantor walau begitu saya mengerti bahwa pd threshold tertentu kita musti mengeluarkan uang kita untuk berputar. 

Dan semua ini bukan berarti saya tidak menikmati hidup saya.. sejatinya saya ini org yg melankolis, penyuka ilmu. Jika ada orang mengejek saya, menghina, dll, biasanya saya tidak melawan.. memang saya ingin menyerap kesedihan yg ditimbulkannya dan berusaha lebih baik lg ke depan. Hal hal terkait ilmu saya pikir sdh byk di internet, jd saya bs menghemat buku dan video melalui itu. Saya cukup dengan internet saja. Kebanyakan lainnya tdk cukup, dan sering lari ke belanja. Menganggap belanja itu membuat hepi sbnrnya termakan gemerlap warna warni supermarket, ilmu untuk menarik orang itu sudah ada di dunia bisnis sejak lama. Saya jika mau warna warni sudah punya buku dgn kertas lux dan gambar nature yg unik-unik, Natgeo dari awal s.d 2007 sudah saya miliki.

Untuk keinginan pergi ganti pemandangan bisa dilakoni dengan sepeda atau motor.Di rumah skrg saya menggunakan motor ayah saya, 110 cc yang hemat dan pajaknya rendah. Knalpot saya ganti sehingga tdk byk polusi. Mengapa harus travelling2 sekarang kyk anak muda, nanti bersama keluarga, pasangan lebih enak toh.

Yah pada prinsipnya saya ini punya (seadanya), tapi tidak untuk dihambur2kan begitu saja. Memandang jauh ke depan, menyiapkan kenyamanan, menelisik logika, mencari tipuan2 yg tdk kasat mata. Orang - orang kaya mungkin tidak memperhatikan sedetil itu krn mereka kaya.

Saya berprinsip, hidup adalah panutan bagi yg lain, ketika kita sudah paham byk org yg tidak bisa makan, masa iya kita menghamburkan uang makan terus di restoran. Anak yg terbiasa dgn kemewahan kemudahan bisa jadi mereka tidak menghargai dan menjaga barangnya, bisa jd mereka byk meminta hal yg sebenarnya tdk mreka butuhkan.

Merasa cukup untuk Allah SWT, itu yg terpenting yg lain optional. Kualitas InsyaAllah saya tempatkan berada di dalam, bukan di luar. Luar hanya sekejap, hidup banyak terpengaruh budaya yg riya, tidak membuat tahan banting, memeras bumi, luar biasa. Hanya dengan ilmu kita bisa memilah mana yg terbaik, untuk diri, generasi penerus, dan sekitar yg mencontoh.

Hasil belajar dari Salemba UI

Yg terakhir doa Nabi Ibrahim :

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku,karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan" As Syuara 83-87

Komentar

  1. Hidup sederhana QS At Takatsur

    BalasHapus
  2. Aku hampir selalu berfikir ulang tentang apa yang aku baca dari tulisan orang lain, apapun itu. Apalagi kalau tulisannya adalah isi dari pikiran penulis sendiri. Tapi baca ini, aku seperti melihat diriku sendiri di masa lalu, jaman masih sekolah. Entahlah :)

    btw, pinjem natgeonya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha sekolah lagi aja ntar dibandingin ya, eniwei monggo ad druma ini buku byk...

      Hapus
  3. salah paham itu karena mekanisme tidak berjalan sebagaimana mestinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer