Ilmu, daun, pohon, dan kebebasan

            Film semacam fight club membuka mata bagi yang memperhatikannya. Secara garis besar pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh manusia baru yg tersadar secara batin, adalah spt itu. Seperti ketika Nabi Ibrahim menanyakan kelakuan orangtuanya, seperti anak yang terus ingin tahu dimana Tuhannya.

            Konsep baru juga didapat dari kutipan kalimatnya, "barang yg kmu miliki akan memiliki kamu" konsep relatifitas ellipsoidal maju yang selalu bolak balik seperti hidup mati, cahaya dan gelap dll. Intinya adalah seperti itu. Dua sisi yang terbalik akan terjadi, orang paling pintar adalah yang paling malas krn dia akan memikirkan bahwa tidak brguna lg belajar.

         
           Dari Edgar Cayce, saya mendapatkan konsep bahwa kita tidak akan pernah memiliki, semua itu hanya melewati kita, dan saya merasa itu benar, semua milik Allah. Kita sendiri adalah selang, spt jalur nadi dalam galur daun, urat pohon, urat kita sendiri.

           "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat."

           Apabila ada yg melewati kita (materi) maka kita harus memberi pada yg lebih sempit dari kita, itulah tugas nadi, itulah namanya zakat, atau di German & ITB dinamakan subsidi silang. Itulah salah satu inti hidup, kebebasan dari kepemilikan.

          "Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer