Ramadhan 1436 Hijriah, hilangkan sedih, belajar lagi
Alhamdulillah,
Walaupun masih tanpa pasangan (krn byk pertimbangan indrawi, dan nalar), saya memasuki bulan ini dgn target.
Ad buku-buku dan prasarana yang bisa memudahkan mencari ilmu (ingat inti awal ajaran ISLAM = IQRO!).
Sebenarnya saya merasa sedih (sampe sakit maag) krn kandidat berguguran semua, 50:50 krn saya dan jg krn dia sendiri. Namun waktu membuktikan bahwa sbnrny semakin byk mengerti, smakin tau mana yang baik, insting diri Insya Allah tdk salah. Bukan berarti kndidat tsb jelek, hanya ad brp hal yg mungkin mereka blum tau skrg (nanti barangkali, kalau byk cari ilmu).
Kemarin saya membaca Al Fatihah dan Bismillah, dalam tafsir Al Misbah (rencana bulan ramadhan ini Surat Al Baqoroh mau saya baca) dari Quraish Shihab. Sungguh mencerahkan. Di dalam benak saya timbul suatu pohon, ya pohon !.
Bismillah adalah batang utama menuju akar, ia menerangkan ALLAH SWT
Alfatihah adalah batang utama, ia menerangkan hubungan dua dunia
untuk ALLAH (3 ayat pertama), untuk interaksi ALLAH dengan kita (sisanya).
Ketika membaca mengenai AR RAHMAAN AR RAHiiiM saya terhenyak, jika kita mensucikan ALLAH maka itu artinya kita mengetahui kasih sayangNya, mengapa ini penting ?
karena ALLAH Maha Kasih, dan selalu Mengasihi.
yang kita lihat merupakan bencana, ataupun nikmat adalah dalam batang pohon kita. ALLAH menyuruh kita introspeksi dan mengambil hikmah,
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi" An Nisaa :79
karena kita tau bahwa ALLAH Maha Mengasihi kita, maka hal tsb benarlah. Dalam konteks pengatur alam semesta, bencana disatu wilayah, bisa jadi merupakan hal yang menguntungkan utk yg lain.
Ranting satu dipatahkan, untuk memberi fokus energi pada ranting yg lain. Selama keadilan ALLAH di alam tidak dijadikan contoh prikehidupan, maka masihlah kita menganggap suatu kejadian itu bencana dll.
Mungkin saya beri contoh, wilayah miskin sumber daya alam, dengan populasi manusia yang banyak sekali (beranak terus) maka dibutuhkan pengurangan populasi, byk kejadian, dari bencana alam, perang, kejahatan, kecelakaan. Krn spt kita tau materi dan energi hanya berubah bentuk, siklus dalam bumi.
Kita melihat bencana atau apapun, ALLAH tetaplah Maha Suci, Maha Mengasihi, jadikan pola pikir kita seperti manajer bumi, berempatilah secara makro, maka lapisan kesedihan adalah hal yang merupakan kewajaran (namun tetap harus dijadikan bahan introspeksi).
Walaupun masih tanpa pasangan (krn byk pertimbangan indrawi, dan nalar), saya memasuki bulan ini dgn target.
Ad buku-buku dan prasarana yang bisa memudahkan mencari ilmu (ingat inti awal ajaran ISLAM = IQRO!).
![]() |
| Keluarga media e baru u. ebook yg sulit di baca dlaptop |
Kemarin saya membaca Al Fatihah dan Bismillah, dalam tafsir Al Misbah (rencana bulan ramadhan ini Surat Al Baqoroh mau saya baca) dari Quraish Shihab. Sungguh mencerahkan. Di dalam benak saya timbul suatu pohon, ya pohon !.
Bismillah adalah batang utama menuju akar, ia menerangkan ALLAH SWT
Alfatihah adalah batang utama, ia menerangkan hubungan dua dunia
untuk ALLAH (3 ayat pertama), untuk interaksi ALLAH dengan kita (sisanya).
Ketika membaca mengenai AR RAHMAAN AR RAHiiiM saya terhenyak, jika kita mensucikan ALLAH maka itu artinya kita mengetahui kasih sayangNya, mengapa ini penting ?
karena ALLAH Maha Kasih, dan selalu Mengasihi.
yang kita lihat merupakan bencana, ataupun nikmat adalah dalam batang pohon kita. ALLAH menyuruh kita introspeksi dan mengambil hikmah,
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi" An Nisaa :79
karena kita tau bahwa ALLAH Maha Mengasihi kita, maka hal tsb benarlah. Dalam konteks pengatur alam semesta, bencana disatu wilayah, bisa jadi merupakan hal yang menguntungkan utk yg lain.
Ranting satu dipatahkan, untuk memberi fokus energi pada ranting yg lain. Selama keadilan ALLAH di alam tidak dijadikan contoh prikehidupan, maka masihlah kita menganggap suatu kejadian itu bencana dll.
Mungkin saya beri contoh, wilayah miskin sumber daya alam, dengan populasi manusia yang banyak sekali (beranak terus) maka dibutuhkan pengurangan populasi, byk kejadian, dari bencana alam, perang, kejahatan, kecelakaan. Krn spt kita tau materi dan energi hanya berubah bentuk, siklus dalam bumi.
Kita melihat bencana atau apapun, ALLAH tetaplah Maha Suci, Maha Mengasihi, jadikan pola pikir kita seperti manajer bumi, berempatilah secara makro, maka lapisan kesedihan adalah hal yang merupakan kewajaran (namun tetap harus dijadikan bahan introspeksi).

Komentar
Posting Komentar