Bung Hatta, dan pendidikan
Saya merasa ada yang hilang dalam diri, dalam negara saya tinggal. Dari sinilah saya mulai mencari kembali sisi yang hilang tersebut, didalam kisah kisah sejarah pembentukan bangsa.
Terdapatlah beberapa tokoh yang memiliki pemikiran yang saya kira serupa dgn yang saya pikirkan. Diantaranya Muhammad Athar atau Muhammad Hatta.
Didorong oleh rasa ingin tahu akibat bergaul dengan sesepuh keluarga yang mendewakan Soekarno, maka saya menemukan dahulu terdapat ketidaksesuaian antara Bung Karno dan Bung Hatta. Setelah saya selidiki ternyata bahwa pembentukan Indonesia itu dulu memiliki dua ide. Bahwa Bung Karno harus cepat, maka Bung Hatta menganggap kita belum siap karena pendidikan nya.
Saya kira inilah intinya, demokrasi itu adalah mayoritas. Saham terpentingnya adalah rakyat yang mengerti. Selama meyoritas masih lemah akal dan mental, maka pemilu yang tampil adalah wakil yg seperti itulah.
Kemudian dari buku Hatta menjawab, saya dapati juga bahwa unsur konstitusi Indonesia ini adalah suatu kolektivitas bukannya individu. Sehingga adat itu berada di dalam kepentingan negara itu sendiri. Seperti itulah semestinya Dewan Adat itu yang ada, bukan Dewan Rakyat.
Bahwa pencarian ilmu adalah suatu keharusan pula, sesuai dengan Al Quran, surat Al Balad. Dan buku diibaratkan istri kedua Bung Hatta. Diceritakan dulu dalam masa pembuangan Bung Hatta membawa berkoper buku, sedangkan anak Sjahrir tidak bisa ikut dalam helikopter, akhirnya buku nya ditinggalkan, dan beliau masih bimbang mengenai itu.
Bahwa dari berbagai tokoh dunia, yang berani tampil adalah yang terpapar berbagai budaya, dan bahasa. Ghandi 5 bahasa, Soekarno juga, Hatta juga, dan juga 9 bahasa H. Agus Salim. Qta inilah penerus yang sedikit sekali berbahasa. Sosial dan pembentukan jiwa ini sangat penting. Ketakutan dimasa muda harus diberantas. Pendidikan menakut-nakuti harus diberantas.
Terdapatlah beberapa tokoh yang memiliki pemikiran yang saya kira serupa dgn yang saya pikirkan. Diantaranya Muhammad Athar atau Muhammad Hatta.
Didorong oleh rasa ingin tahu akibat bergaul dengan sesepuh keluarga yang mendewakan Soekarno, maka saya menemukan dahulu terdapat ketidaksesuaian antara Bung Karno dan Bung Hatta. Setelah saya selidiki ternyata bahwa pembentukan Indonesia itu dulu memiliki dua ide. Bahwa Bung Karno harus cepat, maka Bung Hatta menganggap kita belum siap karena pendidikan nya.
Saya kira inilah intinya, demokrasi itu adalah mayoritas. Saham terpentingnya adalah rakyat yang mengerti. Selama meyoritas masih lemah akal dan mental, maka pemilu yang tampil adalah wakil yg seperti itulah.
Kemudian dari buku Hatta menjawab, saya dapati juga bahwa unsur konstitusi Indonesia ini adalah suatu kolektivitas bukannya individu. Sehingga adat itu berada di dalam kepentingan negara itu sendiri. Seperti itulah semestinya Dewan Adat itu yang ada, bukan Dewan Rakyat.
Bahwa pencarian ilmu adalah suatu keharusan pula, sesuai dengan Al Quran, surat Al Balad. Dan buku diibaratkan istri kedua Bung Hatta. Diceritakan dulu dalam masa pembuangan Bung Hatta membawa berkoper buku, sedangkan anak Sjahrir tidak bisa ikut dalam helikopter, akhirnya buku nya ditinggalkan, dan beliau masih bimbang mengenai itu.
Bahwa dari berbagai tokoh dunia, yang berani tampil adalah yang terpapar berbagai budaya, dan bahasa. Ghandi 5 bahasa, Soekarno juga, Hatta juga, dan juga 9 bahasa H. Agus Salim. Qta inilah penerus yang sedikit sekali berbahasa. Sosial dan pembentukan jiwa ini sangat penting. Ketakutan dimasa muda harus diberantas. Pendidikan menakut-nakuti harus diberantas.

Komentar
Posting Komentar