Peradaban dan Negara versi Ibn Khaldun
Ibn Khaldun, adalah pemerhati sosial di abad 14, masa hidup yg sama dgn Timurlange dan Ibn Battuta. Beliau terkenal melalui Muqaddimah, yang tercakup dlm buku yg lebih besar 'Ibar (suri tauladan), yang kemudian menjadi perhatian khalayak krn gaya bahasa dan cakupan yg melampaui masa, krn "hikmah" itu ada dlm sejarah kata Ibn Khaldun.
Seperti yg saya ketahui dr hidup, bahwa terdapat keterkaitan meningkat, dan juga bersambung lagi kembali ke awal (yang dikira oleh Barat adalah evolusi). Dicontohkan dlm tingkatan pikiran, Pada mahluk lain sampai kera, berkumpul pengenalan dan intuisi saja, selanjutnya manusia memiliki gagasan, dan kemampuan bersatu dlm suatu Ash'abiyah (solidaritas).
Ibn Khaldun jg mengetahui bahwa hidup manusia itu bergantung pada Sunnatullah, yang berupa alam dunia, locusnya.
Iklim membentuk perilaku (khuluqan), sifat asli (malakatan), kebiasaan ('adatan) yg menempati kejadian asli (thabi'atan) dan wataknya (jibillah).
Jiwa manusia pada dasarnya sama saja (al haqiqat al insaniyah), yg membentuknya adalah kebiasaany, shg menjadikan sifat mental berbeda. Ada yg siap menerima hal baru, etiket dll. Perbedaan org luar kota dan dalam kota itu sbnrnya adl dkrnakan lifestylenya, bukan kecerdasanny.
Yang menentukan manusia itu adalah bukan krn bibit bebet bobotnya, namun kebiasaannya.
Manusia juga pada hakikatnya tidak dapat berdiri sendiri dan adalah mahluk politik.
Politik diibaratkan suatu kuasa untuk menahan niat seseorang, suatu pengaruh yang akan berkembang menjadi kekuasaan, dan hal inilah yang dikuasai ilmunya oleh keluarga Ibn Khaldun.
Setelah lama berkecimpung ayah nya tahu betapa berbahayanya kuasa/politik tsb, dan menganjurkan Ibn Khaldun untuk menekuni ilmu pendidikan saja.
Namun barulah Ibn Khaldun menyadari hal tsb setelah beberapa lama dan setelah itu beliau menyepi untuk menghasilkan karyanya di padang pasir Aljazair, kawasan Bani Salamah, 'Ibar tsb.
Simpulan yang dpt saya ambil bahwa ; jika kesederhanaan dan yang penting telah terganti oleh kemewahan dan yg tidak penting, maka suatu negara telah berada dalam kehancurannya. Terakhir disimpulkan bahwa politik yg baik adl ketika praxis (praktek) sama dengan doxa (kepercayaan).
(via A. Rahman Zainuddin dalam buku Kekuasaan dan Negara)
Seperti yg saya ketahui dr hidup, bahwa terdapat keterkaitan meningkat, dan juga bersambung lagi kembali ke awal (yang dikira oleh Barat adalah evolusi). Dicontohkan dlm tingkatan pikiran, Pada mahluk lain sampai kera, berkumpul pengenalan dan intuisi saja, selanjutnya manusia memiliki gagasan, dan kemampuan bersatu dlm suatu Ash'abiyah (solidaritas).
Ibn Khaldun jg mengetahui bahwa hidup manusia itu bergantung pada Sunnatullah, yang berupa alam dunia, locusnya.
Iklim membentuk perilaku (khuluqan), sifat asli (malakatan), kebiasaan ('adatan) yg menempati kejadian asli (thabi'atan) dan wataknya (jibillah).
Jiwa manusia pada dasarnya sama saja (al haqiqat al insaniyah), yg membentuknya adalah kebiasaany, shg menjadikan sifat mental berbeda. Ada yg siap menerima hal baru, etiket dll. Perbedaan org luar kota dan dalam kota itu sbnrnya adl dkrnakan lifestylenya, bukan kecerdasanny.
Yang menentukan manusia itu adalah bukan krn bibit bebet bobotnya, namun kebiasaannya.
Manusia juga pada hakikatnya tidak dapat berdiri sendiri dan adalah mahluk politik.
Politik diibaratkan suatu kuasa untuk menahan niat seseorang, suatu pengaruh yang akan berkembang menjadi kekuasaan, dan hal inilah yang dikuasai ilmunya oleh keluarga Ibn Khaldun.
Setelah lama berkecimpung ayah nya tahu betapa berbahayanya kuasa/politik tsb, dan menganjurkan Ibn Khaldun untuk menekuni ilmu pendidikan saja.
Namun barulah Ibn Khaldun menyadari hal tsb setelah beberapa lama dan setelah itu beliau menyepi untuk menghasilkan karyanya di padang pasir Aljazair, kawasan Bani Salamah, 'Ibar tsb.
Dua tugas pokok manusia yaitu melestarikan dirinya dan membangun dunia.
Dan untuk itu pemimpin diperlukan, karena watak ruh dlm tubuh yg
memiliki sisi kebinatangan ini perlu pengaturan. Kalau tidak maka
hancurlah dirinya. Shg aturan tsb akan otomatis ada, meskipun aturan Tuhan
blm ada. Meskipun menurut nya, aturan wahyu lebih baik dr aturan rasio.
Pimpinan dalam solidaritas adl yg mampu mempengaruhi dan menahan yg terbesar. Dan dalam solidaritasnya, dari suatu bangsa jika dijajah, maka kuasanya berkurang, gairah hidup dan harapan memudar, shg terjadi kemalasan dll.
Kemudian solidaritas tsb bergantung pada pimpinannya yg dekat dgn sifat kemuliaan. Mengenai kemuliaan keluarganya, orang yg berjuang secara keras di permulaan ini, akan mewariskan pada anak generasi pertama yg menyambut kemuliaan tsb, namun dia akan memiliki kekurangan krn hanya mendengarkan, bukan mengalami kerja keras awal tsb. Generasi ketiga adalah yg hanya mengikuti (muqallid) yg memiliki kekurangan dibanding yg membentuk pendapat sendiri (mujtahid). Kemudian generasi keempat akan menurun total kemuliaan awalnya krn tidak memiliki apapun sifat2 awal generasi pertama.
Dan negara adl puncak penjelmaan kekuasaan dari solidaritas. Di dalamnya sudah wajar terjadi pemaksaaan. Kerjasama tidak dapat dilakukan kecuali dengan paksaan, karena tidak banyak yg tahu mengenai kepentingan bersama itu.
Kekuasaan negara bergantung pada dominasi. Yg dicapai dengan solidaritas dan persatuan tekad. Dan diperantarakan oleh agama. Spt jantung yg menyuplai darah, maka semakin luas wilayah, solidaritas akan semakin berkurang.
Laisa hunaka illa l 'amal = yang menentukan segala sesuatunya adalah kerja manusia.
Al tsiqotu bi kulli ahadin 'ajzun = mempercayai orang lain adalah kelemahan
Ekonomi dan politik sejajar. Cara berkegiatan mempengaruhi mentalitas jiwa.
Dalam perkembangan negara, Diwan adalah istilah untuk badan,yg pertama kali dibentuk atas dasar penerimaan dan pengeluaran kas daulah (ummat) adalah dimasa Umar RA dia mendapat usulan dari Hurmuzan.
Kas pajak dari negara yang berkembang ke arah kemewahan akan menjadikan rakyatny jenuh krn semakin meningkatnya pajak. Negara akan menyuruh rakyat berusaha shingga menghasilkan wajib pajak baru.
Simpulan yang dpt saya ambil bahwa ; jika kesederhanaan dan yang penting telah terganti oleh kemewahan dan yg tidak penting, maka suatu negara telah berada dalam kehancurannya. Terakhir disimpulkan bahwa politik yg baik adl ketika praxis (praktek) sama dengan doxa (kepercayaan).
(via A. Rahman Zainuddin dalam buku Kekuasaan dan Negara)

Komentar
Posting Komentar