Sang Penabur Benih
Di suatu masa, hiduplah seorang yang selalu bertanya. Nama samarannya adalah Multatuli (1820-1887).
Sebagai seorang yang merantau sebagai pegawai negri Belanda ke daerah jajahannya, dia telah banyak merasakan getirnya hidup (multatuli = yg banyak mengalami).
Hal hal yang dirasakan orang sebagai sudah biasa, tidak serta merta mematikan pikirannya yg tajam. Bahkan dia menantangnya.
Persoalan di masa itu, dan juga ketidakmauan kalangannya untuk membantu menelaah hal tersebut dituangkan dalam essay essay yang menyindir. Buku nya yang populer adalah Max Havelaar, namun yang saya baca adalah bukunya yang lain "Buah renungan".
Diawalnya adalah wanita. Sesuatu yang saya perhatikan juga menjadi pusar segalanya. Ketika adat istiadat mengekang pikiran wanita, seperti tidakbolehnya mereka mendapat pendidikan tinggi, adalah bentuk perusakan generasi yg disitirnya. Adat disini juga membuat wanita tidak mampu berinisiatif, malah "siap menderita" kalau bole saya menyebutnya bgitu.
Kemudian istri, digambarkan tentang wanita yg bersedia belajar dari sang lelaki. Dalam hati saya, seharusnyalah kedua pasangan itu saling belajar dan mendorong untuk itu, pun tidak spt sekarang kebanyakan berjalan sendiri2 dlm ego tism yang mandek. Sebab inilah saya belum mendapat pasangan.
Dalam pelajaran pada sang wanita diterangkan ; Ditengahnya adalah Kuasa yang mengkorupsi jiwa. Karena materi adalah inti hidup, maka kuasa adalah penjaganya. Walaupun sama manusia namun saling tekan untuk melanggengkan itu.Itu adalah inti "politik" menahan orang lain agar memenuhi keinginan diri sendiri.
Kemudian orangtua jg jadi kritikan olehnya, seperti yg saya pikirkan juga. Orangtua yg tdk ingin ditinggalkan anak, disuruh mencintai anaknya. Dan kemudian merasa tidak bisa mencintai, dia meng-Invent istilah "hormati orangtua" pun menambah "supaya engkau selamat".
Kasta dan leveling pada dialog ratu dan anaknya (seorang ratu mempertanyakan kebimbangan anaknya untuk membantu semua orang yg kekurangan, ratu tsb menjawab itu sudah takdir mereka, namun anaknya menjawab):
Dan pendidikan :
Pada akhirnya saya kutip penutup dari beliau:
Sebagai seorang yang merantau sebagai pegawai negri Belanda ke daerah jajahannya, dia telah banyak merasakan getirnya hidup (multatuli = yg banyak mengalami).
Hal hal yang dirasakan orang sebagai sudah biasa, tidak serta merta mematikan pikirannya yg tajam. Bahkan dia menantangnya.
"Jadilah orang yang diberkati alam dengan keinginan pada ilmu, ... fikir, renung, timbang, berkali-kali"
Persoalan di masa itu, dan juga ketidakmauan kalangannya untuk membantu menelaah hal tersebut dituangkan dalam essay essay yang menyindir. Buku nya yang populer adalah Max Havelaar, namun yang saya baca adalah bukunya yang lain "Buah renungan".
Diawalnya adalah wanita. Sesuatu yang saya perhatikan juga menjadi pusar segalanya. Ketika adat istiadat mengekang pikiran wanita, seperti tidakbolehnya mereka mendapat pendidikan tinggi, adalah bentuk perusakan generasi yg disitirnya. Adat disini juga membuat wanita tidak mampu berinisiatif, malah "siap menderita" kalau bole saya menyebutnya bgitu.
Kemudian istri, digambarkan tentang wanita yg bersedia belajar dari sang lelaki. Dalam hati saya, seharusnyalah kedua pasangan itu saling belajar dan mendorong untuk itu, pun tidak spt sekarang kebanyakan berjalan sendiri2 dlm ego tism yang mandek. Sebab inilah saya belum mendapat pasangan.
Dalam pelajaran pada sang wanita diterangkan ; Ditengahnya adalah Kuasa yang mengkorupsi jiwa. Karena materi adalah inti hidup, maka kuasa adalah penjaganya. Walaupun sama manusia namun saling tekan untuk melanggengkan itu.Itu adalah inti "politik" menahan orang lain agar memenuhi keinginan diri sendiri.
Kemudian orangtua jg jadi kritikan olehnya, seperti yg saya pikirkan juga. Orangtua yg tdk ingin ditinggalkan anak, disuruh mencintai anaknya. Dan kemudian merasa tidak bisa mencintai, dia meng-Invent istilah "hormati orangtua" pun menambah "supaya engkau selamat".
Pada penguasa dan negarawan, beliau mengkritik :
- Rakyat adalah peresmian calon pelayan
- Kemakmuran adalah sebuah bait dlm laporan
- Rencana umum haluan negara, sebuah kartu turf mengalahkan lawan
- Warga negara adalah sarana/barang untuk pajak
Kasta dan leveling pada dialog ratu dan anaknya (seorang ratu mempertanyakan kebimbangan anaknya untuk membantu semua orang yg kekurangan, ratu tsb menjawab itu sudah takdir mereka, namun anaknya menjawab):
"....apa ada tingkatan (kasta) yang menganjurkan kelaparan, yang menganjurkan selalu berkekurangan ??, kalau begitu semuanya adalah kebohongan krn org selalu berkhotbah tntg kemuliaan dan peradaban"
Dan pendidikan :
"Ingatan tidak bertambah kaya dgn menyia-nyiakan akal. Sebaliknya, yg selalu melatih diri dalam berpikir akan merasa membutuhkan bahan2 berpikir, fakta2. Ia yg lupa, terpaksa mencari kembali yg lupa tsb, dlm perjalannya mencari titian yg hilang, ia akan menemukan hal-hal yg tidak dipelajarinya. Dan pada akhirnya memadu persahabatan dengan kawan lama yang sempat terlupa (ilmu)"
Pada akhirnya saya kutip penutup dari beliau:
"Saya akan sajikan kisah paradoks roman keterangan, saya harap akan adanya ide dalam setiapnya itu. Jadi.. namakanlah karya saya itu, Ide-Ide. Hanya itu. Dan tulis diatasnya : Seorang penabur benih, pergi keluar untuk menabur"

Komentar
Posting Komentar